Free Consultation

Komisi Marketplace Naik Terus, Pindah ke Website Sendiri? Ini Plus Minusnya

PanduanDiperbarui Oktober 20267 menit bacaOleh Tim Super Seller
Ringkasan 30 detik

Komisi platform naik, biaya logistik baru, komisi dinamis melonjak — wajar kalau banyak seller mulai berpikir: “Mending jualan di website sendiri aja, biar nggak dipotong terus.” Tapi apakah pindah ke website sendiri benar-benar solusinya?

Artikel ini membedah plus-minus jualan di website sendiri vs tetap di marketplace, berdasarkan kondisi biaya terbaru 2026. Spoiler: jawabannya bukan salah satu — tapi keduanya, dengan strategi yang tepat.

Infografis angka kunci marketplace vs website sendiri: potongan TikTok Shop 15%–25%, Shopee 6%–25%, payment gateway 2%–3%, hosting Rp100–500rb per bulan, 6–12 bulan sampai hemat, lebih dari 90% transaksi lewat marketplace
Enam angka kunci yang dipakai di panduan ini untuk menimbang marketplace vs website sendiri. Sumber: Tim Super Seller, kondisi Mei 2026.

Kenapa Seller Mulai Melirik Website Sendiri?

Pemicunya jelas: biaya jualan di marketplace makin besar. Per Mei 2026, total potongan di TikTok Shop bisa mencapai 15%–25% dari harga jual (komisi platform + komisi dinamis + biaya logistik + affiliate). Di Shopee, angkanya tidak jauh berbeda — berkisar 6%–25% per transaksi tergantung program yang diikuti.

15%–25%Total potongan TikTok Shop dari harga jualKondisi Mei 2026
6%–25%Potongan Shopee per transaksi, tergantung programKondisi Mei 2026
2%–3%Biaya payment gateway di website sendiriEstimasi panduan ini

Dengan potongan sebesar itu, seller yang punya margin tipis merasa makin tercekik. Maka muncul pertanyaan: kalau biaya di marketplace hampir seperti “sewa”, kenapa tidak “punya toko sendiri”?

Plus: Keuntungan Punya Website Sendiri

Tidak ada komisi per transaksi. Ini daya tarik utama. Di website sendiri, kamu tidak bayar komisi platform 2%–8%, tidak ada komisi dinamis, dan tidak ada potongan affiliate wajib. Yang ada hanya biaya payment gateway (sekitar 2%–3%) dan biaya hosting (Rp100rb–500rb per bulan).

Untuk seller dengan omzet Rp50 juta/bulan, penghematan bisa mencapai Rp5–10 juta per bulan.

Data pelanggan milikmu. Di marketplace, kamu tidak bisa menghubungi ulang pembeli yang sudah pernah beli — kecuali lewat iklan berbayar. Di website sendiri, kamu punya email, nomor HP, dan riwayat pembelian pelanggan. Ini memungkinkan remarketing langsung via WhatsApp atau email tanpa biaya tambahan.

Kontrol penuh atas branding. Website sendiri memungkinkan kamu mengatur tampilan, pengalaman belanja, dan alur checkout sesuai identitas brand. Tidak ada produk kompetitor yang muncul di halaman tokomu.

Harga lebih fleksibel. Tanpa tekanan perang harga marketplace, kamu bisa menjual dengan harga yang lebih tinggi — terutama jika brand-mu sudah dikenal. Produk premium sangat diuntungkan oleh model ini.

Data pelanggan adalah aset

Email, nomor HP, dan riwayat pembelian membuat kamu bisa remarketing langsung via WhatsApp atau email, tanpa bayar iklan lagi untuk pembeli yang sama.

Minus: Tantangan yang Sering Diremehkan

Traffic tidak datang otomatis. Ini tantangan terbesar. TikTok Shop dan Shopee sudah punya ratusan juta pengguna aktif yang siap belanja.

Website baru? Nol pengunjung. Kamu harus membangun traffic dari nol lewat SEO, iklan berbayar (Meta Ads, Google Ads), atau sosial media — dan semua itu butuh waktu dan biaya.

Kepercayaan konsumen rendah. Pembeli Indonesia terbiasa dengan perlindungan marketplace — garansi uang kembali, tracking otomatis, sistem komplain yang jelas. Di website sendiri, pembeli khawatir: “Kalau barang tidak sesuai, uang bisa kembali nggak?” Membangun trust butuh waktu dan investasi di review, testimoni, dan payment gateway terpercaya.

Operasional lebih kompleks. Kamu harus mengurus sendiri: hosting, keamanan website, update sistem, integrasi payment gateway, pengiriman (tanpa subsidi ongkir dari platform), dan customer service tanpa template otomatis dari marketplace.

Regulasi PSE. Sejak 2026, website yang melakukan transaksi jual-beli wajib terdaftar sebagai Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) di Komdigi. Tanpa registrasi, website bisa diblokir.

Daftar PSE dulu sebelum terima transaksi

Website yang melakukan transaksi jual-beli wajib terdaftar sebagai PSE di Komdigi. Tanpa registrasi, website bisa diblokir.

Perbandingan Biaya: Marketplace vs Website Sendiri

Mari bandingkan biaya realistis untuk seller dengan omzet Rp50 juta/bulan:

Komponen Biaya Marketplace Website Sendiri
Komisi Platform Rp2–5 juta Rp0
Payment Gateway Termasuk Rp1–1,5 juta (2-3%)
Hosting & Domain Termasuk Rp100–500rb/bulan
Biaya Traffic/Iklan Rp2–5 juta (opsional) Rp3–10 juta (wajib)
Biaya Logistik Subsidi platform Tanggung sendiri
Setup Awal Gratis Rp3–15 juta
Estimasi Total/Bulan Rp4–10 juta Rp4–12 juta

Estimasi untuk seller dengan omzet Rp50 juta/bulan, Mei 2026

Grafik bar rentang biaya bulanan marketplace vs website sendiri untuk omzet Rp50 juta per bulan: komisi platform, payment gateway, hosting, traffic iklan, dan estimasi total Rp4–10 juta vs Rp4–12 juta
Rentang biaya bulanan per komponen untuk omzet Rp50 juta/bulan (ilustrasi dari tabel di atas). Sumber: estimasi Tim Super Seller, Mei 2026.

Perhatikan: biaya website sendiri tidak selalu lebih murah. Kamu “menghemat” komisi platform, tapi harus “membayar” traffic yang di marketplace sudah tersedia gratis (lewat organic search marketplace). Penghematan nyata baru terasa setelah website punya traffic stabil — biasanya 6–12 bulan.

Kalkulator margin di marketplace

Ganti angkanya dengan produk Anda sendiri.

Harga promo—
Potongan platform—
Sisa margin per unit—

Ilustrasi sederhana, belum termasuk packing/iklan/retur.

Website sendiri menghapus komisi platform, tapi menggantinya dengan biaya traffic. Estimasi totalnya mirip: Rp4–10 juta vs Rp4–12 juta per bulan.

Jeda sebentar

Sudah: plus, minus, dan hitungan biaya dua channel. Sekarang: cara mengombinasikan keduanya dan kapan website layak dibuka.

Belum yakin potongan marketplace kamu masih sehat untuk margin? Kirim struktur biaya dan omzet kamu, tim kami bantu hitung, gratis tanpa komitmen.

Jadwalkan Konsultasi

Lanjut baca: Strategi Terbaik: Jangan Pilih Satu, Kombinasikan ↓

Strategi Terbaik: Jangan Pilih Satu, Kombinasikan

Seller paling cerdas di 2026 tidak memilih marketplace atau website — mereka pakai keduanya dengan peran yang berbeda:

Marketplace sebagai channel akuisisi. Gunakan TikTok Shop dan Shopee untuk menjangkau pembeli baru. Terima potongan biayanya sebagai “biaya akuisisi customer” — sama seperti bayar iklan. Target: mendapatkan pembeli pertama kali.

Website sebagai channel repeat order. Setelah pembeli pertama kali puas, arahkan mereka ke website untuk pembelian berikutnya. Caranya: sisipkan kartu atau insert di paket dengan QR code ke website, tawarkan harga khusus atau free ongkir di website, dan bangun email list untuk remarketing. Di website, tidak ada potongan komisi — jadi profit per transaksi jauh lebih besar.

Sosial media sebagai penghubung. Instagram, TikTok, dan WhatsApp menjadi “jembatan” antara marketplace dan website. Bangun audience di sini, lalu arahkan ke channel yang paling menguntungkan.

Diagram strategi kombinasi channel: marketplace untuk akuisisi pembeli baru, sosial media sebagai penghubung, website sendiri untuk repeat order
Tiga channel dengan tiga peran: akuisisi, penghubung, dan repeat order. Sumber: Tim Super Seller.

Potongan marketplace dihitung sebagai biaya akuisisi pembeli pertama. Profit yang lebih besar dikejar lewat repeat order di website.

Kapan Website Sendiri Layak Dipertimbangkan?

Website sendiri masuk akal jika: omzetmu sudah stabil di atas Rp30 juta/bulan, kamu punya produk unik yang tidak mudah dibandingkan harganya, repeat purchase rate tinggi (kosmetik, makanan, suplemen), kamu sudah punya followers/audience di sosial media, dan margin produkmu cukup untuk menanggung biaya akuisisi traffic sendiri.

Sebaliknya, jika kamu masih di tahap awal, fokus saja di marketplace dulu. Bangun brand, kumpulkan review, dan pahami customer-mu. Website bisa menjadi langkah ke-2 setelah fondasi di marketplace sudah kuat.

Masih tahap awal? Marketplace dulu

Bangun brand, kumpulkan review, dan pahami customer di marketplace. Website jadi langkah ke-2 setelah fondasinya kuat.

Realita: Marketplace Tetap Raja Traffic di Indonesia

Satu fakta yang sering dilupakan: marketplace di Indonesia masih menguasai lebih dari 90% transaksi e-commerce. Shopee, Tokopedia, dan TikTok Shop punya infrastruktur yang belum bisa ditandingi website individual — dari sistem pembayaran, logistik terintegrasi, hingga perlindungan pembeli.

Pindah total ke website sendiri tanpa strategi traffic yang jelas sama saja membangun toko di gang sempit berharap orang lewat. Marketplace memang “mahal”, tapi mereka menyediakan apa yang paling sulit didapatkan sendiri: pembeli yang sudah siap belanja.

Baca juga: TikTok Shop vs Shopee, Cara Menghitung Profit Bersih, Update Kebijakan & Biaya 2026

Cek Kesiapan Buka Website Sendiri

Klik tiap poin yang sudah kamu pastikan.

FAQ

Apakah jualan di website sendiri pasti lebih murah dari marketplace?
Tidak selalu. Untuk omzet Rp50 juta/bulan, estimasi total biaya marketplace Rp4–10 juta dan website sendiri Rp4–12 juta per bulan. Komisi platform memang hilang, tapi biaya traffic jadi wajib.
Berapa lama sampai website sendiri terasa lebih hemat?
Penghematan nyata baru terasa setelah website punya traffic stabil, biasanya 6–12 bulan.
Kapan seller sebaiknya mulai membuka website sendiri?
Saat omzet sudah stabil di atas Rp30 juta/bulan, produk unik, repeat purchase rate tinggi, sudah punya audience di sosial media, dan margin cukup untuk menanggung biaya traffic. Kalau masih tahap awal, fokus di marketplace dulu.
Apakah website toko online wajib terdaftar PSE?
Ya. Sejak 2026, website yang melakukan transaksi jual-beli wajib terdaftar sebagai Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) di Komdigi. Tanpa registrasi, website bisa diblokir.

Kesimpulan

Komisi marketplace naik? Iya. Pindah ke website sendiri? Bisa, tapi bukan solusi instan.

Strategi terbaik adalah kombinasi: marketplace untuk akuisisi customer baru, website untuk repeat order yang lebih profitable. Jangan tinggalkan marketplace sebelum website-mu siap menghasilkan traffic sendiri.

Sebelum ambil keputusan besar soal channel penjualan, pastikan kamu sudah memahami struktur biaya terbaru marketplace dan cara setting harga yang benar. Butuh second opinion? Jadwalkan konsultasi gratis dengan tim Super Seller — kami bantu analisis apakah bisnismu sudah siap untuk multi-channel.

Bingung tetap di marketplace atau mulai buka website sendiri?

Tim Super Seller bantu analisis struktur biaya dan kesiapan bisnismu untuk multi-channel.

Chat WhatsApp SekarangGratis, tanpa komitmen. Atau lihat halaman konsultasi.

Sumber

  1. Super Seller – Update kebijakan biaya TikTok Shop 2026: komisi platform, komisi dinamis, dan biaya logistik
  2. Super Seller – Cara menghitung profit bersih TikTok Shop setelah semua potongan

Artikel Terkait