Free Consultation

TRENDING

Tren Jualan Online 2026: Era Diskon Bergeser ke Brand

Pasar e-commerce Indonesia masih tumbuh kencang, tapi cara memenangkannya sudah berubah. Berdasarkan data pasar e-commerce Indonesia dari Mordor Intelligence, nilai pasar naik dari USD 90,35 miliar pada 2025 menjadi USD 104,21 miliar di 2026—pertumbuhan dua digit yang tetap memikat.

Namun di balik angka besar itu, tren jualan online 2026 menunjukkan pergeseran tajam: diskon agresif tidak lagi jadi senjata utama. Yang menentukan menang-kalah sekarang adalah kredibilitas brand, kualitas produk, dan pengalaman pelanggan. Seller yang masih mengandalkan perang harga justru paling rentan boncos di tahun ini.

Dari pengalaman kami mendampingi seller, pola ini sudah mulai terasa sejak akhir 2025—toko dengan brand kuat bertahan, sementara yang cuma jual murah ikut tergerus saat biaya platform naik.

Tren Jualan Online 2026: Pasar Membesar, Aturan Berubah

Pasar membesar bukan berarti semua seller ikut untung. Pertumbuhan year-on-year 2026 diproyeksikan 15–18%, lebih tinggi dari 12,9% di 2025, tapi pertumbuhan itu mengalir ke pemain yang punya diferensiasi jelas.

Fase ini sering disebut “confident commerce”: pembeli makin selektif dan tidak otomatis tergoda harga termurah. Mereka menimbang reputasi toko, ulasan, dan kualitas konten sebelum checkout.

Indikator Pasar 2026 Angka
Nilai pasar e-commerce 2026 USD 104,21 miliar
Nilai pasar 2025 USD 90,35 miliar
Proyeksi pertumbuhan YoY 2026 15–18%
Kontribusi video commerce ke GMV online (2025) ~20%
Kontribusi live streaming ke GMV TikTok 47%
Kontribusi short video ke GMV TikTok 27%
Ongkir retur ditanggung seller per transaksi hingga Rp10.000

Video Commerce Jadi Mesin Penjualan Utama

Mesin pertumbuhan terbesar 2026 adalah video—live shopping dan short video. Video commerce melonjak dari kurang dari 5% kontribusi GMV online pada 2022 menjadi sekitar 20% di 2025, dan tren ini terus menanjak.

Menurut data SIRCLO soal live commerce, di TikTok rata-rata live streaming menyumbang 47% GMV, diikuti short video 27%. Artinya, hampir tiga perempat penjualan TikTok Shop datang dari konten video, bukan etalase statis.

Yang kami lihat di lapangan: seller yang konsisten live minimal beberapa jam sehari hampir selalu unggul atas toko yang hanya mengunggah foto produk.

Diskon Bukan Lagi Senjata Utama

Perang diskon kehilangan daya karena dua hal: margin makin tipis dan pembeli makin pintar. Saat semua toko banting harga, yang tersisa cuma profit yang menipis tanpa loyalitas pelanggan.

Diferensiasi 2026 datang dari kredibilitas, bukan potongan harga. Toko yang membangun brand—ulasan bagus, respon cepat, konten konsisten—bisa menjual di harga normal dan tetap laku. Pergeseran ini kami bahas juga dalam konteks social commerce 2026.

Biaya Naik, Perang Harga Makin Berbahaya

Menjatuhkan harga di 2026 lebih berisiko dari sebelumnya karena struktur biaya bertambah. Sejak 1 Juni 2026, seller menanggung ongkir retur hingga Rp10.000 per transaksi, seperti diberitakan Bisnis.com.

Kombinasi komisi, biaya iklan, dan ongkir retur membuat margin produk murah makin tertekan. Sebelum ikut promo besar, pastikan harga Anda sudah benar—pelajari caranya di panduan menentukan harga jual produk TikTok Shop. Detail dampak retur ada di artikel biaya retur TikTok Shop 2026.

Kota Tier-2 dan Tier-3 Jadi Medan Baru

Pertumbuhan berikutnya datang dari luar kota besar. Penetrasi e-commerce ke daerah tier-2 dan tier-3 menjadi salah satu pendorong utama, didukung perbaikan logistik dan adopsi pembayaran digital.

Bagi seller, ini peluang sekaligus tantangan: pasar baru lebih besar, tapi ekspektasi ongkir murah dan pengiriman cepat juga lebih tinggi. Strategi omnichannel dan pemilihan kanal yang tepat jadi penentu, sesuatu yang kami soroti saat membahas seller pindah ke website mandiri.

Yang Harus Seller Lakukan Sekarang

Tiga prioritas yang kami rekomendasikan untuk menyesuaikan diri dengan tren ini:

Untuk brand yang ingin scale lewat creator, kami bantu lewat layanan jaringan creator (MCN).

Kesimpulan

Tren jualan online 2026 jelas: pasar tetap tumbuh ke USD 104 miliar, tapi kemenangan berpindah dari yang termurah ke yang paling kredibel dan paling kuat di video. Seller yang membangun brand, serius di konten, dan mengunci margin akan menikmati pertumbuhan—sementara pemain perang harga akan tergerus biaya.

Artikel Terkait

Pergeseran ini juga tercermin di sisi pembeli — lihat data pengguna e-commerce 2026 soal naiknya akses TikTok Shop dan turunnya Shopee.