TRENDING
Shopee kehilangan 5,7 poin pangsa pengakses dalam satu tahun, dari 53,2% menjadi 47,5%. Di periode yang sama, TikTok Shop melompat dari 27,4% ke 33,4% — kenaikan terbesar di antara semua platform belanja. Itulah temuan paling penting dari Survei Penetrasi Internet APJII yang rilis 16 Juni 2026.
Angka ini bukan sekadar berita persaingan dua raksasa. Bagi Anda yang jualan, data pengguna e-commerce 2026 ini adalah peta tempat pembeli Anda sekarang berkumpul. Kami di Super Seller mendampingi lebih dari 100 brand yang jualan di TikTok Shop, dan pergeseran ini sudah kami rasakan jauh sebelum surveinya keluar: trafik organik dari konten video naik, sementara toko yang cuma mengandalkan harga murah mulai sepi.
Pertanyaannya bukan lagi “platform mana yang menang”, tapi “apakah toko Anda sudah ada di tempat yang benar dengan cara yang benar”. Mari bedah datanya dan apa artinya buat strategi Anda.
Inti datanya: pasar masih besar, tapi distribusinya bergeser. APJII mencatat 235,26 juta penduduk Indonesia kini terkoneksi internet — penetrasi 81,72% dari total populasi 287,89 juta jiwa. Dari kolam sebesar itu, inilah platform yang paling banyak diakses untuk belanja.
| Platform | 2025 | 2026 | Pergeseran |
|---|---|---|---|
| Shopee | 53,2% | 47,5% | -5,7 poin |
| TikTok Shop | 27,4% | 33,4% | +6,0 poin |
| Tokopedia | 9,6% | 11,2% | +1,6 poin |
| Lazada | 9,1% | 6,2% | -2,9 poin |
| Blibli | 0,7% | 0,4% | -0,3 poin |
| Facebook Marketplace | 0,2% | 0,1% | -0,1 poin |
Shopee tetap nomor satu, jadi jangan salah baca seolah ia tumbang. Tapi arah panahnya jelas: TikTok Shop dan Tokopedia naik, Shopee dan Lazada turun. Karena Tokopedia dan TikTok Shop kini satu ekosistem, gabungan keduanya menyentuh 44,6% pengakses — praktis menyamai Shopee.
Pembeli tidak hilang. Mereka pindah pintu masuk. Tugas seller adalah berdiri di pintu yang paling ramai dilewati, bukan pintu yang dulu paling ramai.
Pertumbuhan TikTok Shop tidak merata — dan justru itu kabar bagus kalau Anda tahu menyasarnya. Daya tariknya jauh lebih kuat di kalangan perempuan dan usia muda, dua segmen yang paling responsif terhadap konten video dan live.
Dari pengalaman kami, brand yang menggeser 30-40% energi kontennya ke format video pendek dan live selama enam bulan terakhir menikmati kenaikan GMV dua digit. Bukan karena diskon, tapi karena mereka muncul di feed orang yang sedang scroll, bukan menunggu dicari.
Kalau target pasar Anda perempuan atau Gen Z, TikTok Shop bukan lagi opsi tambahan — itu kanal utama. Alokasikan budget konten sesuai ke mana pembeli Anda benar-benar berada.
Penyebabnya struktural, bukan musiman. Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) menegaskan bahwa kompetisi marketplace 2026 tidak lagi ditentukan oleh diskon atau harga termurah, melainkan oleh pengalaman belanja: live commerce, video commerce, program afiliasi, dan personalisasi berbasis AI.
Ada tiga gaya dorong yang bekerja bersamaan. Pertama, model discovery commerce TikTok membuat orang menemukan produk sambil hiburan, bukan saat berniat belanja. Kedua, gelombang regulasi 2026 — dari biaya retur sampai pembatasan promo ongkir — memangkas ruang bakar uang untuk diskon, sehingga platform terpaksa bersaing di fitur dan layanan. Ketiga, kepercayaan: pembeli makin memilih toko yang kontennya konsisten dan responsif.
Buat seller, ini sebenarnya kabar melegakan. Kalau perang harga melandai, brand kecil dengan konten kuat punya peluang menang melawan pemain bermodal besar. Kami melihat ini berulang di toko dampingan kami: margin yang dijaga plus konten rutin mengalahkan toko yang terus banting harga sampai boncos. Logika serupa kami bahas di tren jualan online 2026 dan perbandingan menyeluruh di TikTok Shop vs Shopee.
Jangan tinggalkan Shopee, tapi berhenti memperlakukan TikTok Shop sebagai pelengkap. Strategi yang kami rekomendasikan ke klien selalu sama: hadir di banyak kanal, dengan bobot mengikuti data.
Saat kami audit akun klien baru, masalah paling sering bukan produknya — tapi energi yang habis di kanal yang trafiknya sudah turun. Geser fokus mengikuti pembeli, dan angka penjualan biasanya menyusul dalam satu hingga dua kuartal. Kalau butuh bantuan memetakan ini untuk brand Anda, tim kami siaga di layanan TikTok Shop Partner.
Tidak. Shopee masih dipakai 47,5% pengakses dan tetap pasar terbesar. Yang berubah adalah bobot: jangan taruh 100% energi di satu kanal saat pembeli jelas-jelas menyebar ke TikTok Shop dan Tokopedia.
Fashion, beauty, dan home living paling cepat tumbuh karena dominasi pembeli perempuan (36,8%) di TikTok Shop. Tapi kategori apa pun bisa naik selama kontennya cocok dengan format video pendek dan live.
Dari pengalaman kami, toko yang konsisten produksi konten dan live butuh sekitar 1-2 kuartal untuk melihat kenaikan GMV stabil. Bukan instan, tapi jauh lebih sehat daripada lonjakan sesaat dari diskon.
Sangat relevan. Penetrasi internet sudah 81,72% secara nasional, dan pertumbuhan TikTok Shop merata di semua kelompok usia. Pasar di luar kota besar justru sering kurang tergarap, sehingga peluangnya lebih lebar.
Data pengguna e-commerce 2026 dari APJII mengonfirmasi apa yang sudah kami lihat di lapangan: pembeli berpindah ke kanal yang menggabungkan konten dan belanja, dan perang harga bukan lagi senjata utama. Shopee tetap besar, tapi TikTok Shop adalah arah pertumbuhan, terutama di segmen perempuan dan usia muda. Insight yang sering terlewat: kemenangan jangka panjang bukan milik yang termurah, melainkan yang paling konsisten muncul di depan calon pembeli.
Bingung memetakan ulang strategi multi-platform Anda? Kami bantu baca data toko Anda dan susun prioritas kanal yang tepat. Cek juga rincian survei APJII 2026 sebagai rujukan.