Free Consultation

Kenaikan biaya platform e-commerce di sepanjang 2026 memicu fenomena baru: seller mulai melirik website mandiri sebagai alternatif jualan. Menteri UMKM Maman Abdurrahman pun sudah menanggapi tren ini. Tapi apakah pindah ke website sendiri benar-benar solusi yang tepat?

Mengapa Seller Mulai Pindah?

Gelombang kenaikan biaya marketplace di awal 2026 membuat banyak seller UMKM merasa tertekan. Menurut laporan Kompas, setidaknya ada 422 mentions publik terkait isu beban biaya marketplace hanya dalam dua minggu terakhir April-Mei 2026. Beberapa faktor pendorongnya:

Tanggapan Menteri UMKM

Menteri UMKM Maman Abdurrahman merespons tren seller yang pindah ke situs mandiri, sebagaimana diberitakan Babel Insight, dengan menyatakan bahwa pemerintah mendukung diversifikasi channel penjualan. Menurutnya, seller tidak harus bergantung pada satu platform saja. Hal ini juga sejalan dengan aturan baru e-commerce yang sedang disiapkan Mendag untuk melindungi seller.

Kelebihan Punya Website Sendiri

Tantangan yang Perlu Dipertimbangkan

Sebelum buru-buru pindah, seller perlu memahami bahwa website mandiri juga punya tantangan besar:

Strategi Terbaik: Hybrid Approach

Daripada memilih salah satu, pendekatan paling bijak untuk UMKM saat ini adalah strategi hybrid:

Proyeksi E-Commerce Indonesia

Meskipun ada tekanan biaya, pasar e-commerce Indonesia tetap tumbuh pesat. Menurut data dari Youngster.id, proyeksi menunjukkan pertumbuhan dari USD 90,35 miliar (2025) ke USD 104,21 miliar (2026), dengan CAGR 15,32% hingga 2031. Kontribusi UMKM terhadap e-commerce Asia Tenggara bahkan diproyeksikan mencapai 58% pada 2029.

Artinya, peluang masih sangat besar — yang berubah adalah strategi untuk memanfaatkannya.

Kesimpulan

Pindah total ke website mandiri bukanlah solusi instan, terutama bagi UMKM yang baru mulai go digital. Namun mulai membangun kehadiran online di luar marketplace adalah langkah strategis jangka panjang yang perlu dimulai sekarang. Kuncinya adalah jangan panik, jangan reaktif — tapi mulai diversifikasi channel penjualan secara terencana.

Sambil membangun website, jangan lupa juga untuk mengoptimalkan performa akun marketplace-mu. Baca juga panduan sistem Account Health Rating (AHR) terbaru dari TikTok Shop agar akun tetap sehat dan terhindar dari penalti.