Kenaikan biaya platform e-commerce di sepanjang 2026 memicu fenomena baru: seller mulai melirik website mandiri sebagai alternatif jualan. Menteri UMKM Maman Abdurrahman pun sudah menanggapi tren ini. Tapi apakah pindah ke website sendiri benar-benar solusi yang tepat?
Mengapa Seller Mulai Pindah?
Gelombang kenaikan biaya marketplace di awal 2026 membuat banyak seller UMKM merasa tertekan. Menurut laporan Kompas, setidaknya ada 422 mentions publik terkait isu beban biaya marketplace hanya dalam dua minggu terakhir April-Mei 2026. Beberapa faktor pendorongnya:
- Cap komisi melonjak drastis — di Tokopedia misalnya, batas maksimum komisi per item naik dari Rp40.000 menjadi Rp650.000
- Biaya logistik baru — Logistics Service Fee yang dibebankan ke seller mulai berlaku Mei 2026
- Program ongkir gratis berubah — subsidi dari platform berkurang, beban pindah ke seller
- Margin semakin tipis — terutama untuk produk dengan harga jual di bawah Rp100.000
Tanggapan Menteri UMKM
Menteri UMKM Maman Abdurrahman merespons tren seller yang pindah ke situs mandiri, sebagaimana diberitakan Babel Insight, dengan menyatakan bahwa pemerintah mendukung diversifikasi channel penjualan. Menurutnya, seller tidak harus bergantung pada satu platform saja. Hal ini juga sejalan dengan aturan baru e-commerce yang sedang disiapkan Mendag untuk melindungi seller.
Kelebihan Punya Website Sendiri
- Kontrol penuh atas margin — tidak ada potongan komisi platform
- Data customer jadi milik sendiri — bisa digunakan untuk repeat marketing
- Branding lebih kuat — tidak bersaing head-to-head dengan ribuan seller lain di satu halaman
- Fleksibilitas pricing — bisa atur harga tanpa perang diskon ala marketplace
Tantangan yang Perlu Dipertimbangkan
Sebelum buru-buru pindah, seller perlu memahami bahwa website mandiri juga punya tantangan besar:
- Traffic harus dibangun sendiri — marketplace sudah punya jutaan pengunjung, website baru mulai dari nol
- Biaya akuisisi customer — iklan digital untuk mendatangkan traffic bisa lebih mahal dari komisi marketplace
- Kepercayaan pembeli — konsumen Indonesia masih lebih percaya belanja di marketplace besar
- Sistem pembayaran dan logistik — harus setup sendiri, tidak se-seamless marketplace
- Butuh skill digital marketing — SEO, content marketing, social media, dan email marketing
Strategi Terbaik: Hybrid Approach
Daripada memilih salah satu, pendekatan paling bijak untuk UMKM saat ini adalah strategi hybrid:
- Tetap di marketplace untuk volume dan visibilitas — fokuskan di 1-2 platform yang paling menguntungkan. Pastikan juga kamu paham update kebijakan dan biaya terbaru di TikTok Shop
- Bangun website secara bertahap — mulai dari landing page sederhana, tingkatkan seiring waktu
- Gunakan social commerce — TikTok Shop, Instagram Shopping sebagai jembatan antara marketplace dan website
- Kumpulkan database customer — mulai dari WhatsApp Business, email list, atau membership
- Investasi di content marketing — blog, video edukasi, dan social media untuk membangun traffic organik
Proyeksi E-Commerce Indonesia
Meskipun ada tekanan biaya, pasar e-commerce Indonesia tetap tumbuh pesat. Menurut data dari Youngster.id, proyeksi menunjukkan pertumbuhan dari USD 90,35 miliar (2025) ke USD 104,21 miliar (2026), dengan CAGR 15,32% hingga 2031. Kontribusi UMKM terhadap e-commerce Asia Tenggara bahkan diproyeksikan mencapai 58% pada 2029.
Artinya, peluang masih sangat besar — yang berubah adalah strategi untuk memanfaatkannya.
Kesimpulan
Pindah total ke website mandiri bukanlah solusi instan, terutama bagi UMKM yang baru mulai go digital. Namun mulai membangun kehadiran online di luar marketplace adalah langkah strategis jangka panjang yang perlu dimulai sekarang. Kuncinya adalah jangan panik, jangan reaktif — tapi mulai diversifikasi channel penjualan secara terencana.
Sambil membangun website, jangan lupa juga untuk mengoptimalkan performa akun marketplace-mu. Baca juga panduan sistem Account Health Rating (AHR) terbaru dari TikTok Shop agar akun tetap sehat dan terhindar dari penalti.